DSC_0656
HR Head NET. TV Hery Kustanto dalam sharing HR Thursday Talk Karir.com “Identifying Leader from the Millenial Generation” di Jakarta Design Center (JDC), Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2015). (Karir.com/Cindy Nara)

Berawal dari kegelisahan bagaimana menghadapi Generasi Milenial, event ini mendapat sambutan luar biasa dari Profesional HR di Jakarta dan dihadiri lebih dari 100 Profesional HR, 2 Juli lalu. Pembicara “HR Thursday Talk” kali ini adalah Hery Kustanto, HR Head NET. TV, stasiun televisi yang lebih dari 70% karyawannya berasal dari Generasi Milenial atau Generasi Y. Dari hasil tanya-jawab, ternyata friksi antara Generasi Milenial dengan pendahulu mereka, yakni Generasi X, lebih nyata dari yang dibayangkan.

Generasi X, atau generasi yang lahir antara tahun 1965-1980, pasti tidak asing dengan Catatan Si Boy yang identik dengan BMW seri 3-nya, Lintas Melawai dan Drive-in Ancol. Sebagian besar menggemari Bon Jovi, dan sekarang mulai heboh karena sebentar lagi akan tampil di Jakarta. Generasi X lebih familiar dengan sepatu roda ketimbang inline skate, pernah merasakan ketegangan antara Amerika dan Rusia, tahu bahwa dulu sempat ada Jerman Barat dan Jerman Timur, sempat menonton Unyil sebagai hiburan, dan lain-lain.

Generasi X adalah pemikir-pemikir independen yang tidak menyukai segala bentuk otoritas, generasi yang menggulingkan Orde Baru, dan generasi yang tidak suka meeting berlama-lama dalam suasana formal. Nah, banyak anggota Generasi X kini menjadi pemimpin perusahaan, sementara yang dipimpin adalah Generasi Milenial atau Generasi Y.

Siapakah Generasi Y?

Generasi Y adalah mereka yang lahir antara tahun 1980-1995. Generasi ini sudah tak lagi mendengar tentang Perang Dingin atau Cold War, KGB, dan lebih tidak menyukai formalitas jika dibandingkan dengan Generasi X. Generasi ini menuntut fleksibilitas dalam bekerja, mempertanyakan semua keputusan (dan bahkan sangat kritis), lebih mahir berhadapan dengan teknologi dibanding generasi sebelumnya, banyak dipengaruhi kultur musik dan pop, dan sadar fesyen.

Dalam paparannya, Hery Kustanto menjabarkan karakter Generasi Milenial yang menjadi populasi dominan NET. TV sebagai berikut:

  1. Generasi yang melek teknologi (tech savvy)
  2. Memiliki ambisi yang tinggi dan ingin karirnya melejit dengan cepat
  3. Haus perhatian (attention-craving)
  4. Menyukai ruang privasi tanpa sekat
  5. Pencitraan kadang tidak menggambarkan dirinya yang sebenarnya
  6. Mampu melakukan multitasking dan berpikiran luas
  7. Pintar cari uang walau tidak bekerja kantoran
  8. Loyalitas yang kurang stabil
  9. Tidak menyukai birokrasi
  10. Generasi work hard, party hard’

Dalam diskusi hangat ngabuburit tersebut, kami juga sepakat bahwa Generasi Milenial adalah generasi yang:

  1. Kritis; mempertanyakan segala hal setiap saat, berani mempertanyakan keputusan atasan
  2. Sadar fesyen dan dipengaruhi kultur musik dan pop

Memahami penggambaran karakter Generasi Milenial di atas akan sangat membantu bagaimana menghadapi mereka di dunia berkarir. Dari paparan Hery Kustanto, tantangan terberat bagi para Profesional HR mungkin adalah bagaimana mendisiplinkan Generasi Milenial.

“Saya sering mengatakan pada mereka… gak heran kalau kamu ini disebut Y (why) Generation. Sukanya nanya ini itu. Why this, why that. Inginnya bisa segera jadi manajer. Emangnya perusahaan mbahmu?” papar Hery dengan gaya bicaranya yang jenaka.

Masalah kedisiplinan memang menjadi isu yang paling sering dilontarkan saat diskusi HR Thursday Talk. Bahkan dalam sesi diskusi dengan media setelahnya, isu disiplin kembali mencuat dan berkembang menjadi obrolan panas. Awak media terlihat sangat antusias dengan topik ini.

Hebatnya, NET. TV berhasil menerapkan disiplin tinggi di tengah awak Milenialnya. Padahal di satu sisi, mereka juga dituntut untuk bisa atau menjadi pribadi yang super kreatif. Sulit dibayangkan bagaimana menyatukan dua kepribadian ini karena keduanya sangat bertolak belakang; pribadi yang kreatif umumnya jauh dari sikap disipilin, pun sebaliknya mereka yang disiplin dan patuh pada peraturan agak sulit berpikir kreatif.

Lantas bagaimana caranya?

Beberapa kesimpulan dari diskusi sore itu adalah sebagai berikut:

1. Suasana Kerja yang Nyaman

Sudah bukan rahasia bahwa karyawan menuntut suasana kerja yang nyaman, dan Generasi Milenial adalah kelompok yang menuntut lebih. Di NET. TV, upaya ini dilakukan melalui desain interior yang menyerupai kafe. “Sampai-sampai desain kantor kami memenangkan penghargaan,” tutur Hery. Area outdoor juga disediakan bagi karyawan untuk melepas stres.

Di Bukalapak.com, selain makan siang dan sore gratis, karyawan juga diperbolehkan bekerja dari rumah dengan flexible working hour. Kebijakan bekerja dari rumah ini menjadi salah satu topik yang menarik dalam diskusi sore itu, karena tidak semua perusahaan dapat menerapkannya.

Friksi seringkali terjadi ketika seorang Head yang berasal dari Generasi X memiliki tim yang berasal dari Generasi Milenial dan sudah terlanjur nyaman dengan pilihan bekerja dari rumah. Generasi X terkadang menganggap mereka sebagai slackers atau pemalas. Di sinilah peran HR sebagai talent development kembali diuji; bagaimana menghadirkan suasana kerja yang nyaman bagi kedua generasi. Jangan kebablasan.

Sementara itu di NET. TV bisa dibilang tidak ada jam kerja. “Karena kami media TV, jam kerja tidak standar. Namun bukan berarti karyawan bisa masuk dan pulang kantor seenaknya. Jam kerja tergantung dari program apa yang sedang dikerjakan. Tak jarang, mereka yang baru pertama kali berkarir di media TV shock dengan pola jam kerja ini,” jelas Hery.

2. Keterlibatan CEO sebagai Sosok Inspiratif

NET. TV menilai keterlibatan seorang CEO merupakan salah satu kunci dalam mendisplinkan Generasi Milenial. CEO NET. TV dipandang sangat terlibat dan dekat dengan generasi ini; selalu hadir dalam pertemuan formal dan informal. “CEO kita sampai jadi idola karyawan baru Generasi Milenial,” aku Hery.

Dalam sebuah buku berjudul The Nordstrom Way tentang kisah sukses Nordstrom, salah satu retailer besar di Amerika, dijelaskan bahwa—berbeda dengan Walmart—Nordstrom lebih melayani konsumen premium. Pendekatan Nordstrom sangat personal, dan untuk bisa menularkan value tersebut kepada karyawan, CEO Blake Nordstrom memperlakukan karyawannya dengan personal pula. Dalam proses induction, sang CEO tidak segan-segan menemui karyawan secara langsung dan memberi sambutan serta insights. Dalam buku tersebut juga digambarkan bagaimana Blake mengatakan kepada para karyawan baru, “Gunakan uang saya bila perlu, supaya kamu bisa lebih dekat dengan konsumen.”

3. Update Berkala

Generasi Milenial adalah generasi yang kritis, sehingga ingin dilibatkan dalam update berkala manajemen perihal kondisi dan performa perusahaan. “Mereka selalu ingin tahu, ‘Perusahaan kita ini gimana sih? Sudah sampai mana?  Untung gak?’” jelas Hery.

Pendekatan serupa diaplikasikan oleh EMTEK Group yang mengenalkan istilah Town Hall pada karyawannya, yakni sebuah agenda rutin bagi pihak manajemen yang diwakili CEO memberikan performance update perusahaan. Kebiasaan ini ternyata mampu menumbuhkan sense of ownership yang tinggi dan memotivasi karyawan untuk terus berkarya.

4. Pendekatan Kreatif

NET. TV bisa dianggap sukses mengaplikasikan pendekatan-pendekatan kreatifnya; mulai dari seragam hingga pelatihan militer untuk karyawan baru.

“Tapi ya desain seragamnya harus keren! Kalau gak, mereka gak mau pakai,” jelas Hery. Terlihat memang NET. TV cukup niat dalam pengaplikasian seragam. Penampilan timnya bak prajurit yang siap tempur. Tak tanggung-tanggung, sepatu pun diseragamkan dengan memakai 5.11 Tactical Boots; merek favorit penggemar permainan airsoft gun.

Pelatihan militer pun diberikan kepada karyawan baru sebagai bentuk usaha penegakan disiplin; karyawan baru akan menghabiskan beberapa hari bersama Kopassus atau Marinir. “Awalnya mereka protes, tapi setelah mengikuti latihan militer ini, mereka sampai menangis ketika harus berpisah dengan pelatih mereka di kesatuan,” cerita Hery yang ternyata kerap menerima telepon dari orang tua Generasi Milenial yang mengucapkan banyak terima kasih karena anak-anak mereka kini lebih disiplin.

5. Performance Review yang Tidak Kaku

Untuk mengakomodir sifat Generasi Milenial yang ambisius dan maunya serba instan, NET. TV tidak ingin mengaplikasikan performance review yang kaku. Review yang umumnya dilakukan setahun sekali, di NET. TV dilakukan setahun dua kali. Tidak heran, seorang karyawan yang bergabung pada bulan Maret 2013, dalam dua tahun bisa naik dari Junior Reporter, Reporter, Senior Reporter, hingga Junior Producer.

Demikian beberapa kiat memahami dan menghadapi Generasi Milenial, bagaimana mendapatkan talenta dan mengidentifikasi karakter yang akan menjadi penerus dan pemimpin perusahaan. Terima kasih kepada Hery Kustanto dari NET. TV yang telah bersedia memberikan insights-nya yang sangat berharga dalam sesi HR Thursday Talk persembahan Karir.com bagi dunia HR Indonesia.

Posted by:Dino Martin

Dino Martin, CEO Setelah mengambil alih Karir.com di penghujung 2014, Dino mentransformasi Karir.com menuju total recruitment solution bagi masyarakat Indonesia. Dengan pengalaman lebih dari 18 tahun di berbagai industri, di antaranya FMCG, telekomunikasi dan otomotif, 5 tahun terakhir Dino menggeluti dunia rekruitmen dengan mendirikan BRecruit Indonesia. Saat ini, BRecruit Indonesia menjadi salah satu selection companies terbaik di Indonesia. Berlatar belakang kuat di bidang business development, finance, dan sales & marketing, sebelumnya Dino adalah Vice President, Sales & Marketing BMW, Marketing Manager L'Oreal dan Brand Manager Ericsson.

One thought on “Strategi Kreatif NET. TV Hadapi Generasi Milenial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s