Bantu Karyawan Ciptakan Makna Pekerjaan

Setiap kali terjadi krisis di perusahaan, para pemimpin berusaha bergerak cepat menyelesaikan masalah, namun seringkali kembali menghadapi krisis berikutnya.

Ketika ekonomi perlahan membaik, pemimpin perlu mengubah pola, dari menyelesaikan permasalahan-permasalahan jangka pendek, menjadi menciptakan peluang-peluang jangka panjang. Untuk mampu keluar dari resesi ekonomi, pemimpin dituntut menyelesaikan resesi psikologis paralel. Kemampuan para pemimpin menghadapi krisis tak berkesudahan akan menentukan suksesnya perusahaan di masa mendatang.

Dalam edisi sebelumnya, “Pemimpin Pintar Motivasi Karyawan dengan 4 Hal Ini,” Dave Ulrich menyampaikan, “Seorang pemimpin harus mampu membantu karyawan menciptakan makna dalam pekerjaannya dengan membantu mereka menggali apa yang menggerakkan atau memotivasi mereka. Pemimpin sebagai pencipta makna, membantu karyawan menggali apa tujuan mereka dan menghubungkan tujuan pribadi tersebut dengan visi organisasi.”

Menurut Dave, ketika pemimpin mampu menyelaraskan visi organisasi dan aspirasi pribadi, makna karyawan akan mampu mendukung keberhasilan organisasi.

 

Pikiran Deficit VS Abundant

Ketika organisasi berhasil keluar dari resesi, para pemimpin perlu berperan menjadi pencipta makna yang membantu karyawan menggantikan pikiran berkekurangan (deficit) dengan pikiran yang sejahtera (abundant). Kesejahteraan (abundance) tidak dapat ditemukan dalam sebuah situasi atau kejadian, seperti misalnya menerima kenaikan gaji yang tinggi atau mempunyai banyak anak buah.

Abundance ditemukan dalam nilai-nilai yang dilekatkan pada kejadian-kejadian dan bagaimana kita menginterpretasikan dampak. Makna tidak serta-merta diwariskan dalam sebuah kejadian, namun diciptakan.

Makna hidup tidak ditentukan oleh apa yang terjadi; kita dapat menemukan tujuan, nilai dan kebahagiaan dalam berbagai situasi, bahkan yang tidak mengenakkan sekalipun. Namun, proses penciptaan makna ini perlu diusahakan, membutuhkan waktu dan perlu peran serta pemimpin.

 

Membuat Pemaknaan yang Berbeda

Dalam takaran pribadi, dialog dengan diri sendiri lah yang akan membentuk dan membangun makna ini.

Kita bisa mengatakan pada diri sendiri bahwa kita tidak digaji dengan semestinya karena perusahaan tidak menghargai kemampuan kita, namun kita juga bisa memaknainya secara berbeda dengan mengatakan betapa bahagianya kita bekerja di sebuah organisasi yang bertanggung jawab secara fiskal.

Kita bisa saja mengatakan pada diri sendiri bahwa bos mengkritik kita karena ingin membantu kita berkembang, karena ia menghargai kontribusi kita dan ingin kita berhasil. Namun kita bisa membuat pemaknaan yang berbeda dengan mengatakan bahwa kritik-kritik tersebut akan berujung pada pemecatan karena kita tidak kompeten.

Kita akan merasa kontribusi kita berarti saat kita mampu memaknai perusahaan tempat kita bekerja sebagai kontributor utama penyelesaian krisis energi, ketimbang hanya melihat kontribusi kita sebagai seseorang yang menghitung angka untuk orang lain.

Dalam takaran perusahaan, para pemimpin dapat membantu membentuk dan membangun makna bagi karyawan seputar realita perusahaan, memfokuskan kesadaran perusahaan pada peluang ketimbang deficit.

 

Bagaimana membantu karyawan menciptakan makna pekerjaannya? Simak terus artikel Dave Ulrich di Blog Karir.com.

(Diterjemahkan dan sedikit disederhanakan dari tulisan Dave & Wendy Ulrich “Got Meaning? Seven Meaning Drivers to Leverage at Work” kepada Karir.com)

Posted by:Cindy Nara

Head of Content

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s