7 Langkah Menciptakan Makna Pekerjaan

Bagaimana para pemimpin dapat dengan lebih sistematis membantu karyawan-karyawannya menciptakan makna dalam pekerjaan?

Dalam The Why of Work: How Great Leaders Build Abundant Organizations that Win, Dave Ulrich mengungkap sebuah hasil penelitian dari beberapa bidang ilmu yang berbeda untuk menemukan tujuh faktor pendorong (drivers) yang dapat diusahakan para pemimpin untuk membantu karyawannya menemukan makna dalam pekerjaannnya.

Dalam dua edisi artikel Dave sebelumnya, “Bantu Karyawan Ciptakan Makna Pekerjaan” dan “Makna Pekerjaan Tidak Ditemukan Tapi Diciptakan,” Dave berbagi pentingnya pemimpin membantu karyawan menciptakan makna dalam pekerjaannya. Selain lebih memotivasi karyawan dalam pekerjaannya, hal ini memiliki pengaruh positif terhadap pencapaian, baik pencapaian karyawan maupun perusahaan, dan bahkan mampu meningkatkan laba dan citra perusahaan.

Nah, apa saja tujuh faktor pendorong yang dapat diusahakan para pemimpin untuk membantu karyawan menemukan makna pekerjaan?

  1. Bantu karyawan mengidentifikasi dan secara kreatif menggunakan kekuatan-kekuatan dan nilai-nilai (seperti integritas, kepemimpinan, keinginan belajar, kebaikan, dll) yang paling menggambarkan dirinya. Bagaimana para pemimpin membantu karyawan membangun kekuatan dalam dirinya yang sekaligus dapat menguatkan orang-orang di sekitarnya?
  2. Samakan tujuan (ide, pencapaian, hubungan, atau pemberdayaan) yang memotivasi karyawan melakukan pekerjaannya, membantunya menciptakan tali penghubung antara pekerjaannya dan hasil yang mempengaruhi orang lain. Bagaimana para pemimpin membantu karyawannya menciptakan kisah yang menghubungkan pekerjaan dan gairahnya?
  3. Kembangkan kemampuan menjalin pertemanan dan kiat-kiatnya untuk menciptakan tim yang berperforma tinggi dan terhubung satu sama lain. Bagaimana karyawan dapat belajar membangun hubungan satu sama lain, baik secara sosial maupun emosional?
  4. Ciptakan lingkungan kerja yang positif dengan memperhatikan karakteristik, seperti kerendahan hati, ketidakegoisan, keteraturan, dan keterbukaan. Bagaimana para pemimpin menciptakan lingkungan kerja fisik dan emosional dengan rutinitas kuat yang tak hanya dirasakan karyawan namun juga konsumen.
  5. Bantu karyawan mengidentifikasi dan bekerja dalam tantangan yang sesuai dengan karakter pribadinya, baik dalam berelasi maupun alur kerja. Bagaimana para pemimpin mengkostumisasi pekerjaan karyawan dan bagaimana mereka meningkatkan alur dan kreativitas?
  6. Seiring berjalannya waktu, bangun refleksi diri (self-reflection) baik dalam level pribadi maupun perusahaan untuk membantu karyawan menemukan pembelajaran dari kegagalan dan membangun kembali, juga untuk memulai langkah perubahan. Bagaimana para pemimpin dengan kesadarannya mampu menghubungkan ide dan dampak, dan mengeneralisasikannya dalam semua aspek organisasi?
  7. Dorong kebiasaan ramah-tamah dan keceriaan melalui hal-hal kecil yang dapat memberi sentuhan personal dan memanusiakan dunia kerja (seperti bercakap-cakap, rekognisi, memuji, kompetisi yang sehat, berbagi makanan ringan, berfoto bersama, bermain-main, humor, dan kreativitas). Bagaimana para pemimpin membiasakan ramah-tamah dan keceriaan tanpa mengubah area kerja menjadi area bermain?

Mengutip Nietzsche, “Seseorang yang menemukan makna mengapa (why) bekerja akan mampu menemukan segala macam cara (how).” Pemimpin dianggap sebagai seseorang yang berpengalaman, tempat karyawan meminta bantuan menemukan “mengapa bekerja” (why of work).

Dalam sebuah workshop beberapa waktu lalu, Dave menemukan bahwa dari yang baru saja bekerja hingga yang hampir pensiun, peserta memahami penciptaan makna ini. Tak hanya itu, sebagian besar memahami hubungan antara penciptaan makna dan bagaimana hal tersebut memberi penghidupan (gaji/uang) bagi mereka.

Dave pun menanyakan bagaimana mereka menemukan makna hidupnya, dan ia mendapat jawaban-jawaban, seperti melalui keluarga, olah raga, kerja sosial, berkebun, yoga, meditasi, wisata, musik, nonton, makan malam, berdoa, dan lain-lain. Dari sini, ia menemukan kenyataan menyedihkan yang jelas terlihat. Semua memang mencari dan menemukan makna, namun tak ada yang menyebutkan menemukan makna hidupnya di tempat kerja. Hampir tidak ada yang menjadikan pekerjaan sebagai tempat mengembangkan makna. Oleh sebab itu, para pemimpin memiliki tugas yang tidak mudah, tak hanya memahami dan menentukan makna, tapi juga mewujudkannya di lingkungan kerja.

(Diterjemahkan dan sedikit disederhanakan dari tulisan Dave & Wendy Ulrich “Got Meaning? Seven Meaning Drivers to Leverage at Work” kepada Karir.com)

Posted by:Cindy Nara

Head of Content

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s