Masih pusing mikirin Generasi Milenial? Sayangnya, sudah saatnya mengucapkan selamat datang pada Generasi Z.

Ya, sudah saatnya mengucapkan selamat datang pada generasi yang akan menjadi pasokan talenta profesional perusahaan Anda mulai hari ini dan masa-masa yang akan datang ini.

Generasi yang lahir setelah tahun 1994 ini hadir dengan attitude yang berbeda, bahkan dari kakak Milenialnya. Mau tak mau, kunci sukses HR untuk mendapatkan talenta terbaik bagi organisasi adalah dengan mengenali dan memahami karakteristik mereka.

 

Siapakah Sebenarnya Gen Z?

Jika Milenial adalah mereka yang lahir pada rentang tahun 1981 hingga 1994, maka Gen Z adalah yang lahir setelah tahun 1994. Tahun 2016 ini, gelombang lulusan S1 dan D3 yang akan mengisi talenta di pasar adalah Gen Z, dan ternyata perilaku mereka sedikit-banyak berbeda dengan Milenial.

Dari temuan Karir.com melalui beberapa survei onlinenya, dapat disimpulkan bahwa Gen Z adalah generasi yang sangat tech-savvy dan akan tumbuh menjadi generasi masa depan yang jauh lebih tech-savvy ketimbang Milenial. Bagaimana tidak? Mereka menghabiskan lebih dari tiga jam per hari untuk menggunakan gadget dan memperoleh informasi tanpa batas melalui internet. Karakteristik berikutnya adalah; mereka merupakan generasi yang sangat peduli pada lingkungan, peka terhadap dampak yang disebabkan manusia pada bumi pertiwi. Maka dalam berkarir pun, mereka menginginkan karir yang memberi dampak positif pada masyarakat, terinspirasi pada kisah-kisah sukses individu, misal Mark Zuckerberg dengan Facebook-nya, atau Kevin Systrom dan Mike Krieger dengan Instagram-nya. Tidak heran, banyak dari mereka pun tertarik untuk bergabung dengan perusahaan-perusahaan startup dan melakukan volunteer work. Bahkan banyak juga yang ingin mendirikan startup sendiri. Begitulah gambaran kecil mengenai Gen Z.

Di Indonesia, jumlah Gen Z sekitar 68 juta orang, sedangkan di database Karir.com terdata sekitar 10.000 orang pencari karir yang berada dalam kategori generasi ini.

 

Strategi Coca-Cola Amatil Indonesia, XL Axiata, Sun Life Financial & KMKLabs

Belum lama ini, Karir.com mendapatkan masukkan dari klien tentang bagaimana susahnya mengundang talenta pilihan yang berasal dari Gen Z untuk hadir di first interview. “Sudah saya ingatkan kepada kandidat melalui telepon, email, dan bahkan WhatsApp ataupun SMS, tetap saja banyak yang tidak hadir,” keluh salah seorang Recruiter perusahaan lokal. Dan jangan kaget, ternyata fenomena ini juga terjadi di perusahaan multinasional sekelas Coca-Cola Amatil Indonesia.

Dixie Rinanti Nugita, Strategic Sourcing Specialist Coca-Cola Amatil Indonesia memaparkan bahwa memang dibutuhkan kesabaran lebih untuk menghadapi Gen Z. “Komunikasi merupakan hal yang penting. Kita juga harus bisa merayu kandidat dengan menjelaskan lebih banyak lagi tentang benefit dan apa saja kelebihan berkarir di Coca-Cola Amatil Indonesia,” jelas Dixie. Menurut Dixie lagi, kebanyakan Gen Z ini adalah generasi yang belum siap bekerja. Tips dari Dixie adalah, “Kita harus selalu membuat mereka excited, misalnya dengan sharing tentang program-program yang dijalankan di Coca-Cola itu seperti apa,” tambahnya. Employer Branding pun menjadi mutlak bagi Gen Z, bahkan untuk perusahaan setenar Coca-Cola Amatil Indonesia.

Hal senada juga diungkapan oleh Junior Diogones, HRBP XL Axiata. “Gen Z ini memang agak susah. Saya melihat mereka malah kurang tertarik bekerja di sebuah perusahaan karena maunya bikin perusahaan sendiri seperti startup. Apalagi untuk talenta IT yang kebetulan menjadi tanggung jawab saya,” papar Dio, panggilan akrab pria lulusan Atma Jaya ini. Bahkan, menurut Dio lagi, hampir separuh dari talenta terbaik di bidang IT cita-cita awalnya adalah mendirikan startup. Ini angka yang besar.

Junior pun berbagi tips yang hampir senada, “Kita harus menciptakan konten yang menarik saat perekrutan. Saya bikin fun games selama proses sourcing supaya mereka mau mendaftar,” kata Dio. Yang dilakukan Dio cukup kreatif. Setelah melakukan registrasi pada job fair, para pendaftar bisa mengikuti games dengan hadiah hiburan. Strategi Employer Branding pun dilakukannya. “Ya, kita harus menjelaskan XL itu apa, lingkungan kerjanya gimana, apakah kita menyediakan flexible working hour, dan lain-lain,” jelas Dio. “Karena mereka ini selalu membandingkan dengan lingkungan kerja dan fasilitas-fasilitas di perusahaan-perusahaan startup seperti Tokopedia,” tambahnya.

Di Industri Keuangan, nama Sun Life Financial juga cukup besar. Namun, seperti pengakuan Yedda Teruna, HRBP Support Sun Life, merekrut Gen Z memang perlu trik khusus. “Mereka sering bilang ‘ya ya ya’, tapi terus tidak hadir saat interview,” keluh Yedda. Employer Branding pun dilakukan dengan baik oleh Yedda dan tim.

“Kalau ke anak-anak sekarang ini, kita tonjolkan program-program sosial apa saja yang dilakukan oleh Sun Life, seperti book donation atau teaching volunteer,” jelas Yedda.   Semua media komunikasi juga harus dimanfaatkan, baik itu telepon, email maupun text (WhatsApp dan SMS).  Khusus untuk email, Yedda bahkan memberikan link ke video Company Profile di Youtube. “Tujuannya sih supaya kandidat bisa lebih mengenal dengan baik siapa Sun Life, sekaligus bisa memberikan ekspektasi mereka.”

Seperti dengan Dio, Yedda pun mengalami kesulitan merekrut talenta terbaik di bidang IT. Lulusan IT terbaik kini memang menjadi incaran banyak perusahaan. Jika merujuk pada hukum supply dan demand, maka supply talenta IT saat ini lebih kecil dibandingkan demand pasar.

Krisna Parapat, Talent Acquisition Manager KMKLabs — anak perusahaan EMTEK Group — juga memaparkan tantangan yang serupa. “Employer Branding menjadi hal mutlak dalam melakukan perekrutan,” kata Krisna. Ia juga menambahkan bahwa panggilan interview melalui email sudah tidak efektif lagi. Hal yang sama juga diamini oleh rekan rekruter perusahaan lain. Tips yang berbeda dari Krisna dirasa cukup efektif. “Untuk merekrut anak IT, saya seringnya menggunakan referral,” jelas Krisna. Referral dirasa merupakan strategi yang berhasil di KMKLabs, dimana pihak HR akan memberikan insentif kepada karyawan yang memberikan referral.

 

Jadi, jika Anda masih bingung bagaimana menghadapi Gen Z terutama dalam hal perekrutan, semoga sharing dari para rekruter di atas dapat memberikan wawasan yang lebih baik. Dan yang terpenting jangan lupa untuk selalu melakukan Employer Branding. Tim Karir.com siap membantu program Employer Branding Anda.

Posted by:Dino Martin

Dino Martin, CEO Setelah mengambil alih Karir.com di penghujung 2014, Dino mentransformasi Karir.com menuju total recruitment solution bagi masyarakat Indonesia. Dengan pengalaman lebih dari 18 tahun di berbagai industri, di antaranya FMCG, telekomunikasi dan otomotif, 5 tahun terakhir Dino menggeluti dunia rekruitmen dengan mendirikan BRecruit Indonesia. Saat ini, BRecruit Indonesia menjadi salah satu selection companies terbaik di Indonesia. Berlatar belakang kuat di bidang business development, finance, dan sales & marketing, sebelumnya Dino adalah Vice President, Sales & Marketing BMW, Marketing Manager L'Oreal dan Brand Manager Ericsson.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s