Mana yang lebih baik antara menjadi kutu loncat atau setia pada satu perusahaan? Artikel berikut akan menyajikan informasi mengenai perbandingan menjadi kutu loncat atau setia pada satu perusahaan.

Apa Itu Kutu Loncat?

Kutu loncat adalah istilah yang digunakan untuk menyebut seseorang yang mudah berganti-ganti pekerjaan dalam rentang waktu yang pendek. Dalam bahasa Inggris, kutu loncat disebut job hopper. Cambridge Dictionary mendefinisikan job hopper sebagai seseorang yang sangat sering berganti pekerjaan.

Kutu loncat memiliki karir yang berubah-ubah, dan pola minat yang berfluktuasi. Kutu loncat cenderung  tidak puas dengan suatu pekerjaan, sehingga mencari peluang pekerjaan yang lebih baik. Waktu yang dihabiskan kutu loncat di sebuah perusahaan tidak lebih dari 2 tahun.

Keuntungan 

  • Keterampilan yang Kompetitif

Seorang kutu loncat yang dapat meletakkan akar yang kuat pada bidang tertentu akan dapat membangun keterampilan yang kompetitif. Berbagai keterampilan baru yang dimiliki akan membantu para kutu loncat menjalani jalur karir baru. Jika kutu loncat mengejar gaji tanpa mengembangkan keahlian, mereka hanya akan terjebak pada stigma.

  • Lebih Banyak Pengalaman

Kutu loncat telah berhadapan dengan berbagai institusi, pekerjaan, dan orang secara profesional. Hal ini memperkaya informasi, pengetahuan, dan sumber daya yang bisa meningkatkan keterampilan mereka. 

  • Jaringan yang Lebih Luas

Berpindah-pindah pekerjaan membuat kutu loncat punya jaringan yang luas. Koneksi yang dimiliki ini tentunya mesti terjalin langgeng. Hubungan baik dengan setiap koneksi bisa memberi keuntungan dalam karir. Sebaliknya, akhir hubungan yang buruk akan menghancurkan jaringan dan referensi mereka. 

  • Naik Gaji Lebih Cepat

Naik gaji menjadi alasan yang sangat mungkin mendasari seseorang menjadi kutu loncat. Kutu loncat yang melompat dengan benar bisa menghasilkan gaji yang lebih besar dari sebelumnya. Hal ini adalah efek positif dari kombinasi berbagai keterampilan, banyaknya pengalaman, dan jaringan yang luas.

  • Menemukan Jati Diri
Read :  Sering Gugup Saat Wawancara Kerja? Begini Cara Mengatasinya

Kutu loncat adalah para pengambil risiko yang hebat. Mereka berani keluar dari zona nyaman mereka. Ini akan meningkatkan produktivitas kerja, antusiasme, dan membuat mereka bersemangat untuk bekerja. Loncatan pekerjaan akan membantu mereka menemukan pekerjaan dan manajemen pekerjaan yang paling sesuai menurut mereka.

Kerugian

  • Loyalitas dan Daya Tahan  Rendah

Bertahan cukup lama dalam sebuah perusahaan menuai beberapa keuntungan dari loyalitas. Kesempatan menuai manfaat dari hasil loyalitas dilewatkan para kutu loncat. Daya tahan yang rendah membuat perekrut mempertanyaan peluang mereka keluar dari perusahaan. Apakah mereka akan mampu bertahan cukup lama di perusahaan, atau berpeluang menambah pengalaman kutu loncat mereka. 

  • Kontribusi Kurang Memuaskan

Kutu loncat dinilai memiliki pengalaman dan keahlian yang dangkal. Kontribusi mereka pada perusahaan dianggap kurang memuaskan dan tidak cukup berharga bagi perkembangan perusahaan. Mereka juga tidak dapat melihat kontribusi yang dibuat untuk kemajuannya dalam waktu yang terlalu singkat.

  • Mengulang Pembuktian Nilai

Untuk setiap pekerjaan baru, para kutu loncat akan kembali mengulang dari titik awal. Selain proses perekrutan, mereka juga akan mengulangi adaptasi dengan kantor baru, termasuk budaya dan sekelompok rekan kerja baru. 

  • Melemahkan CV

Perubahan profil pekerjaan yang banyak menimbulkan dampak negatif  pada CV atau resume. Perekrut sering ragu memperkerjakan kandidat yang tidak stabil untuk bekerja di satu perusahaan dalam jangka lama. Riwayat pengalaman kerja yang gonta-ganti memberi stigma bahwa mereka tidak dapat diandalkan.

  • Lebih Sulit Mendapatkan Pekerjaan Baru

Pola pekerjaan yang melompat-lompat tidak akan membantu kamu membangun karir yang panjang dan sukses. Parahnya job hoping justru memberi efek untuk selalu berpikir bahwa pekerjaan lain lebih baik daripada pekerjaan yang sedang dijalani. Bahkan mereka akan kehilangan minat dalam karir tanpa menyadarinya. 

Read :  Quality Assurance: Skill Wajib yang Harus Dimiliki Seorang Quality Assurance

Nah, bagaimana dengan karyawan setia? Karyawan setia seringkali dianggap aset perusahaan. Sebab loyalitas karyawan berpengaruh besar terhadap keberhasilan bisnis. Para karyawan setia menghormati visi misi perusahaan dan akan bertindak secara tepat. 

Meskipun begitu, mereka juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan karyawan yang setia adalah mereka punya komitmen tinggi terhadap pekerjaan. Sebab mereka cenderung menghindari absensi. Loyalitas mereka akan membuat bisnis lebih sukses.

Adapun kekurangan dari karyawan yang setia, yaitu perusahaan memerlukan biaya dan investasi lebih atas loyalitas mereka. Dari sisi sumber daya karyawan, karyawan setia dianggap kurang produktif dan inovatif. Banyaknya pengalaman yang mereka lalui di perusahaan membuat mereka kurang termotivasi.

Jadi mana yang paling baik menurutmu, kutu loncat atau setia pada satu perusahaan?

Author

Hai! Saya Masriah Hasan, seorang yang bersemangat menerbitkan konten berdasarkan riset tentang karir, bisnis, pendidikan, dan lain-lain.