Tips Karir

3 Tanda Utama Burnout di Tempat Kerja 

Pinterest LinkedIn Tumblr

Ketika pekerjaan dan gaya hidup kamu semakin sibuk, sindrom burnout bisa datang menghampiri kamu. Burnout adalah fenomena pekerjaan yang semakin umum terjadi. Para pekerja ini merasa kelelahan akibat tuntutan pekerjaan mereka sehingga mereka mulai mengurangi keterlibatan mereka terhadap pekerjaannya. 

Laporan Gallup menemukan bahwa hanya 1 dari 4 karyawan sangat setuju mereka merasa terhubung dengan budaya mereka dan hanya 1 dari 3 sangat setuju bahwa mereka termasuk dalam organisasi mereka. Ini masalah yang serius, dan burnout mungkin menjadi salah satu yang mempengaruhinya.

Apa itu burn out dan apa saja tanda-tandanya? Apakah burnout berbahaya? Semakin parah burnout yang dihadapi, semakin sulit bagi kamu untuk memenuhi kewajiban profesional. Jadi, inilah mengapa penting untuk untuk mengenali gejalanya.

Apa Itu Burnout?

Burn out itu apa? Psikolog Jerman, Herbert Freudenberger dalam bukunya yang bertajuk Burnout: The High Cost of High Achievement menggambarkan burnout sebagai sebuah kondisi padamnya motivasi atau insentif, terutama ketika seseorang pada suatu penyebab gagal menghasilkan hasil yang diinginkan. 

Kenapa orang burn out? Mengutip New York Times, Dr. Lotte Dyrbye, seorang ilmuwan dokter yang mempelajari burnout mengatakan bahwa burnout adalah manifestasi dari stres kronis yang tak tanggung-tanggung. 

Apa Saja Tanda-tanda Burnout di Tempat Kerja? 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengklasifikasikan burnout sebagai diagnosis medis, termasuk kondisi dalam Klasifikasi Penyakit Internasional. Dalam klasifikasinya, burnout adalah suatu sindrom yang dikonseptualisasikan sebagai akibat dari stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil dikelola. 

Burnout dapat didiagnosis dengan melihat empat gejala yang ada. Pertama, perasaan penipisan energi, kelelahan dan kepenatan. Kedua, peningkatan jarak dengan pekerjaan secara mental. Ketiga, perasaan negativisme atau sinisme terkait dengan pekerjaan. Dan keempat, berkurangnya kepercayaan diri secara profesional.

Read :  Ikuti Tantangan #getCVgetPRIZE Berhadiah 2 Smartphone Setiap Bulan dan 5 Voucher Pulsa Rp 150.000 Setiap Minggu, GRATIS!

Senada dengan diagnosa WHO, Freudenberger dan Gail North menguraikan 12 tahap burnout: paksaan untuk membuktikan diri sendiri, bekerja lebih keras, mengabaikan kebutuhan pribadi, perpindahan konflik, revisi nilai, penolakan masalah yang muncul, penarikan, perubahan perilaku yang aneh, depersonalisasi, kekosongan batin, depresi, dan sindrom burnout.

Seorang Psikolog Sosial asal University of California, Christina Maslach, juga menggambarkan tahapan burnout. Menurutnya, burnout adalah sindrom dengan tiga komponen yang muncul sebagai respons terhadap stres kronis di tempat kerja. Tiga komponen gejala tersebut sebagai berikut.

1. Kelelahan

Gejala yang utama ketika burnout adalah kelelahan. Kelelahan ini bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara kognitif dan emosional. Kelelahan yang mendalam ini melemahkan kemampuan orang untuk bekerja secara efektif dan merasa efektif dengan yang dikerjakannya. 

Dari mana ini berasal? Beban kerja, tugas yang berlebihan, tuntutan budaya organisasi untuk aktif 24/7, dan tekanan yang intens lainnya dapat menjadi penyebabnya. Dalam keadaan lelah, kamu akan menemukan dirimu sulit konsentrasi, atau bahkan merasa kesulitan mengerjakan tugas-tugas rutin yang biasanya terasa mudah.

2. Sinisme

Sinisme disebut juga depersonalisasi atau kondisi di mana seseorang merasa jiwanya terlepas dari tubuh. Pada dasarnya, sinisme adalah cara untuk menjauhkan dan mengurangi keterlibatan diri secara psikologis dalam pekerjaan. 

Alih-alih meningkatkan employee engagement, pekerjaan yang berlebihan justru menghasilkan sinisme. Sinisme juga terjadi akibat konflik yang tinggi, ketidakadilan, dan kurangnya partisipasi dalam pengambilan keputusan. Jika kamu secara terus menerus merasakan sinisme, ini adalah sinyal bahwa kamu kehilangan koneksi, dan kesenangan saat bekerja.

3. Ketidakefektifan

Ketidakefektifan mengacu pada perasaan tidak kompeten dan kurangnya pencapaian dan produktivitas. Seseorang yang merasakan gejala burnout akan khawatir berlebihan dan berpikir bahwa mereka tidak berhasil dalam menyelesaikan tugas tertentu. Misalnya, meski kamu adalah sales dengan pengalaman lebih dari 5 tahun, belakangan ini kamu selalu mempertanyakan kemampuanmu.

Read :  Jaminan Hari Tua (JHT) Jadi Masalah, Bagaimana Isi dan Dampaknya?

Kelelahan lebih sering menjadi gejala pertama burnout, namun ketidakefektifan juga bisa menjadi penyebab yang memulainya. Salah satu pemicu timbulnya ketidakefektifan adalah tidak adanya umpan balik, kritik yang membangun, dan pengakuan atas kinerja yang dilakukan karyawan. 

Burnout seringkali terasa sulit diatasi. Namun pengalaman yang hebat ini menjadi titik yang membawa kamu ke karier yang lebih berkelanjutan dan lebih bahagia. Kunjungi Karir.com untuk menemukan informasi lowongan kerja terbaru. 

Hai! Saya Masriah Hasan, seorang yang bersemangat menerbitkan konten berdasarkan riset tentang karir, bisnis, pendidikan, dan lain-lain.