where-s-the-money-gone-1513359 kol

Mungkin banyak dari kita yang tengah bulan sudah mepet dan harus hidup “pas-pasan.” Enak kali ya gajian tiap minggu atau dua minggu sekali, jadi kalau minggu ini duit habis, minggu depan sudah punya uang lagi.

Sistem Penggajian di Australia Dua Minggu Sekali

Di Australia, gaji dibayarkan harian, mingguan, dua minggu sekali (fortnightly) dan bulanan. Biasanya gaji harian atau mingguan diberikan untuk karyawan kontrak atau paruh waktu. Bagi karyawan tetap dan full-time, biasanya perusahaan membayarkan gajinya dua minggu sekali atau setiap bulan.

Ketentuan penggajian tergantung masing-masing perusahaan dan kontrak kerja. Praktek umum yang sering dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Australia adalah sistem penggajian dua minggu sekali. Biasanya dalam kontrak kerja, telah disepakati gaji tahunan karyawan yang mencakup tunjangan-tunjangan. Kemudian, gaji tahunan ini dibagi dalam 52 minggu, dan dibayarkan 26 kali dalam setahun.

Besaran Gaji di Australia

Penetapan upah minimum di Australia ditentukan berdasarkan industri. Pemerintah Australia mengaturnya melalui yang namanya ‘awards’ per industri (baca: fairwork.gov.au), di mana upah minimum ditentukan melalui rate per jam dan dibedakan antara upah minimum bagi karyawan full-time, part-time dan casual.

Sebagai contoh, di industri profesional, gaji per jam karyawan dengan latar belakang pendidikan S1 adalah AUD 23.04. Sedangkan di industri cleaning service, minimal gajinya AUD 18.46 per jam. Setelah mengetahui upah minimum ini, perusahaan bisa melakukan dua macam praktek. Yang pertama menggunakan panduan ini untuk menggaji mingguan, misal di industri cleaning service, gaji per jamnya dikali 40 jam kerja per minggu. Praktek lain adalah dengan menentukan gaji tahunan, semisal AUD 50,000 per tahun dibagi per jam dan dibayarkan tiap dua minggu. Biasanya perhitungannya menjadi AUD 50,000 dibagi 52 minggu, lalu dibagi lagi 40 jam per minggu untuk mendapatkan besaran gaji per jam. Hmm, cukup rumit ya?

Sistem Penggajian di Indonesia

Sistem penggajian di Indonesia paling cepat bisa dilakukan seminggu sekali (biasanya bagi buruh pabrik atau karyawan paruh waktu), atau selambat-lambatnya sebulan sekali, kecuali dalam kontrak kerja tertulis waktu pembayaran kurang dari satu bulan.

Sistem penggajian yang sering diterapkan untuk karyawan full-time adalah bulanan. Lalu ada peraturan Menteri Ketenagakerjaan No Per 04/MEN/1994 tentang Tunjangan Hari Raya (THR) yang mengharuskan perusahaan membayarkan THR sebesar satu bulan gaji bagi karyawan yang sudah bekerja satu tahun penuh di perusahaan tersebut.

Besaran THR adalah total gaji pokok ditambah tunjangan-tunjangan tetap dalam satu bulan. Yang berhak mendapatkan THR adalah yang minimal sudah bekerja selama tiga bulan secara terus-menerus (atau telah lulus masa probation) dan akan mendapatkan THR secara proporsional sesuai masa kerja (pro-rata). Jadi, dalam setahun, perusahaan wajib membayarkan gaji ke karyawannya sebanyak 13 kali.

Besaran Gaji di Indonesia

Upah minimum di Indonesia ditentukan per daerah yang diatur oleh Peraturan Daerah (Perda). Sebagai contoh, upah minimum di Jakarta diatur oleh Peraturan Gubernur No 176 Tahun 2014 tentang Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta. Tahun 2015, UMP sebesar Rp 2.700.000 per bulan. Biasanya peraturan ini kemudian menjadi tolak ukur bagi perusahaan untuk menentukan gaji karyawannya.

Adil Mana? Dua Minggu Sekali atau Sebulan Sekali?

Sistem gaji mingguan atau dua mingguan sebetulnya cukup adil karena dalam satu tahun ada 52 minggu, dan pembayaran dilakukan berdasarkan upah per jam. Jika dibandingkan dengan sistem gaji bulanan di Indonesia, di mana satu tahun ada 12 bulan dan satu bulan ada empat minggu, maka empat dikali 12 adalah 48. Lalu bagaimana nasib empat minggu sisanya?

Untung pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan THR sehingga perhitungan 13 kali gaji setara dengan gaji 52 minggu. Beberapa perusahaan di Indonesia membedakan antara gaji ke-13 dengan THR, sehingga dalam satu tahun, karyawan akan menerima gaji 14 kali. Mungkin yang ini jauh lebih adil?

Jadi Enak yang Mana?

Tidak ada yang salah atau benar. Jika dilihat dari sisi perusahaan di Indonesia, akan lebih mudah mempraktekkan sistem penggajian sebulan sekali karena disesuaikan dengan pembukuan keuangan yang biasanya juga sebulan sekali.

Kalau ditanya pilih mana, jawabannya tergantung masing-masing individu. Jika Anda tipe boros dan sulit menabung, mungkin sistem gaji mingguan atau dua minggu sekali lebih cocok untuk Anda. Namun kalau Anda pandai mengatur keuangan, sistem bulanan mungkin lebih menarik, karena Anda bisa menerima semua uang Anda tiap bulan dan kemudian mengalokasikannya untuk berbagai macam kebutuhan, termasuk menabung.

Yang lebih penting adalah bagaimana cara kita mengatur keuangan. Bagaimana caranya? Nantikan di artikel berikutnya…

Untuk tahu apakah gaji Anda sudah sesuai dengan standar gaji yang berlaku di pasaran, dengan melihat industri, posisi dan lamanya Anda berkarir, cek gaji Anda di sini dengan fitur terbaru Salary Benchmark persembahan Karir.com.

2 CommentsClose Comments

2 Comments

  • Dori
    Posted September 28, 2015 at 3:12 am 0Likes

    Great info!

  • Panduhenri
    Posted October 2, 2015 at 8:50 am 0Likes

    Thanks for great info.

    Sebenarnya yg menarik perhatian adalah dasar pemberian upah. Di beberapa negara maju memang dihitung per jam berdasar level individu dalam perusahaan serta level perusahaan dalam industri di satu negara. Hal ini membuat masing2 individu untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan. Selain itu, dapat membantu pemerataan ekonomi dimana standard upah tidak berdasar regional. Bayangkan regional Jakarta akan selalu dibanjiri pekerja karena upah minimum lebih baik daripada daerah2 lain.

Leave a Reply

IMG_7088
Booth Emtek Group dalam Karir.com Kickoff dan Expo di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Rabu-Kamis (27-28/5/2015).

SIARAN PERS

Untuk Segera Dipublikasikan

Jakarta, 27 Mei 2015

Karir.com, Portal Karir Pertama Indonesia Ingin Menjadi Aset Bangsa
Menandai Kickoff dengan Identitas Baru

Sejak diakuisisi Emtek Group pada Desember 2014, portal karir pertama di Indonesia, Karir.com, mulai membenahi manajemen dan melakukan sejumlah perubahan secara signifikan. Di bawah komando CEO Dino Martin yang memiliki pengalaman di berbagai industri selama lebih dari 18 tahun di bidang business development, finance, sales & marketing, dan recruitment solution, karir.com akan bertransformasi menjadi portal pilihan terbaik yang mampu menghubungkan talenta dengan opportunity sehingga menjadikan para professional lebih efektif dan sukses dalam berkarir. Dengan menjadi portal pilihan ini, Karir.com akan mampu memberikan solusi total untuk keperluan rekrutmen dan sumber daya manusia bagi perusahaan.

Mimpi Karir.com ternyata lebih tinggi. “Visi kami jauh lebih tinggi. Kami ingin menjadi aset bangsa yang mampu membantu Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia,” jelas Dino Martin, CEO Karir.com. “Pekerjaan rumah bangsa ini dari berbagai studi dan laporan yang ada jelas sekali, yaitu sumber daya manusianya,” tambah Dino lagi. Dengan platform, fitur-fitur, dan database yang terus dikembangkan, ke depannya bukan tidak mungkin karir.com dapat memberikan digital economic mapping bagi Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Karir.com juga berbagi hasil survei mereka yang dilakukan selama 5 bulan terakhir. “61% profesional menjadikan internet sebagai sumber utama untuk mendapatkan informasi karir, sementara 29% mendapatkan informasi dari teman, 6% dari info lowongan karir di koran,” tutur Dino.

Hasil temuan Karir.com melalui survei “Potret Perilaku Profesional Berdasarkan Usia dan Level Pekerjaan di Kota-Kota Besar di Indonesia” kepada 6.530 responden inilah yang mendorong Dino ingin mengajak para praktisi dan profesional HR untuk mulai memikirkan upaya-upaya solutif dan kreatif demi mempertahankan kinerja karyawan terbaiknya.

Survei tersebut juga memberikan paparan dan informasi berharga bagi pelaku HR, seperti tingkat kenyamanan bekerja, kepuasan gaji, faktor-faktor yang membuat para profesional terus berkarya di perusahaannya, hingga lama kerja seseorang sebelum akhirnya berpikir untuk berpindah karir.

“Yang menarik, secara umum profesional Indonesia berpikir akan pindah karir setelah 2 tahun ke atas. Namun, jika dianalisa berdasarkan usia, ternyata mereka yang berusia 20 hingga 25 tahun dan di level staf memiliki tingkat persentase untuk pindah dalam jangka waktu 6-12 bulan. Lebih singkat,” jelas Dino lagi, “Ini artinya, perusahaan harus bisa memberikan proper induction, dimana karyawan yang baru bergabung dapat menjadi bagian dari visi besar perusahaan,” papar Dino lagi.

Berdasarkan survei tersebut juga kenyamanan bekerja menjadi faktor dominan bagi para profesional di Indonesia, disusul oleh jenjang karir dan lokasi perusahaan. Namun, ketika dianalisa berdasarkan gender, potret ini berubah. Kaum perempuan lebih mementingkan lokasi perusahaan daripada jenjang karir. Inilah sebagian kecil dari hasil survei Karir.com bagi pelaku HR di Indonesia.

Untuk menjadi portal karir pilihan di Indonesia, kini tampilan situs Karir.com pun dibuat menjadi lebih progresif, modern dan dinamis, dengan fitur-fitur yang memudahkan para pencari karir dan perusahaan. “Dengan situs yang baru, kami ingin mengajak user untuk tidak hanya memikirkan tentang pekerjaannya saat ini namun lebih ke karir mereka,” tutur Rizka Septiadi, Chief Marketing Officer Karir.com. “Ini soal personal branding. Kami ingin mereka mampu menunjukkan potensi dan kualitasnya melalui tampilan baru Karir.com,” tambahnya.

Rizka, atau yang kerap disapa Cika, menambahkan bahwa perusahaan pun kini lebih mudah mencari kandidat yang tepat untuk perusahaannya.

Ratih Pulkeria, Product Manager Karir.com, mengatakan, “Karir.com yang baru akan terus berevolusi untuk memenuhi keinginan pengguna, baik pencari karir maupun perusahaan. Tim engineering kami yang solid dan kuat menciptakan mesin yang mampu merespon cepat dan interface yang lebih interaktif.”

Hingga April 2015, situs Karir.com telah mendapat 2 juta kunjungan per bulan, 1,3 juta qualified resume dan 33.000 perusahaan baik lokal maupun multinasional ada dalam database-nya.

Menandai kickoff desain barunya, di saat bersamaan, Karir.com menyelenggarakan Karir.com Expo 27-28 Mei 2015 di Balai Kartini, dengan lebih dari 1.000 opportunities di 80 perusahaan.

Karir.com merupakan portal asli milik Indonesia dan memiliki visi menjadi aset bangsa. “Karir.com milik Indonesia, dari Indonesia dan bagi Indonesia,” tutup Dino Martin.

***

Tentang Karir.com
Karir.com adalah Portal Karir pertama di Indonesia, berdiri tahun 1999. Sejak Desember 2014 Karir.com menjadi bagian dari Emtek Group, sebuah grup dengan 3 divisi bisnis utama: Media, Telekomunikasi & Solusi IT, dan Konektivitas. Beberapa portofolio Media Online Emtek: Liputan6.com, lakupon.com, vidio.com, dan kini Karir.com – menyediakan layanan bagi perusahaan untuk mendapatkan talenta terbaik melalui media online.

Dino Martin, CEO
Setelah mengambil alih Karir.com pada akhir 2014, Dino merubah perusahaan ini menjadi solusi rekruitmen total untuk pasar Indonesia. Dengan membawa pengalaman yang sudah lebih dari 18 tahun di berbagai industri seperti FMCG, telekomunikasi dan otomotif, dan 5 tahun terakhir di industri perekrutan. Dino memiliki latar belakang yang kuat dalam pengembangan bisnis, keuangan, serta penjualan dan pemasaran. Sebelumnya, Ia pernah menjabat sebagai Vice President, Sales and Marketing BMW, Marketing Manager L’ Oreal serta Brand Manager Ericsson.

 

Keterangan lebih lanjut hubungi:

Rizka Septiadi
Chief Marketing Officer
PT Karir Komunika Pratama
Jl. Bumi No. 10 Kebayoran Baru
Jakarta Selatan 12120
cika@karir.com
0811117627

%d bloggers like this: