Apakah Anda sering merasa pekerjaan dan kehidupan pribadi Anda seperti di luar kendali? Tuntutan pekerjaan yang begitu menyita waktu, pikiran dan tenaga, belum lagi ketika sampai di rumah harus menghadapi tuntutan keluarga?

Padahal kita bekerja hanya 40 jam per minggu. Sepertinya wajar. Praktek yang sudah umum dilaksanakan di Indonesia. Menurut Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, perusahaan diwajibkan untuk melaksanakan ketentuan jam kerja maksimal 40 jam per minggu, yang diatur dalam dua sistem, yaitu: tujuh jam kerja sehari untuk enam hari kerja, atau delapan jam kerja sehari untuk lima hari kerja. Peraturan yang sama berlaku secara global.

Namun mengapa pada prakteknya, banyak profesional dan karyawan yang mengeluh tidak memiliki cukup banyak waktu untuk menyeimbangkan antara  tanggung jawab pekerjaan dan tanggung pribadi (dalam keluarga terutama). Kita sering kali hanya fokus untuk mengefisienkan waktu kerja di kantor setiap hari, tapi melupakan kenyataan bahwa banyak karyawan yang membutuhkan waktu yang lama untuk berangkat ke kantor (long commutes), koneksi dengan email yang terus-menerus dan juga waktu yang dihabiskan untuk menyelesaikan pekerjaan setelah jam kerja.

Banyak sekali kisah dan keluhan, terutama di kota metropolitan, tentang pengorbanan waktu personal untuk menghadapi macet saat berangkat atau pulang kerja, harus bertemu dengan klien atau mengerjakan pekerjaan di rumah karena deadline sudah mendesak. Hal ini tentunya sangat mempengaruhi kehidupan personal dalam keluarga dan lingkup pribadi seperti tugas rumah tangga, berolahraga, bertemu dengan teman ataupun sekedar menghidangkan makan malam.

Belum banyak perusahaan di Indonesia yang melihat ketidakseimbangan antara work and life sebagai isu. Namun dengan perkembangan jaman dan teknologi yang cukup pesat, Generasi Milenial (Gen Y) sudah mulai sadar akan isu ini, terutama bagi  mereka yang hidup di kota metropolitan seperti Jakarta. Kepentingan personal dan keluarga sering konflik dengan tuntutan pekerjaan dan profesional. Alhasil banyak orang merasa bahwa hidup berjalan di luar kontrol mereka. Kondisi burn-out dan tingkat turnover yang tinggi menjadi salah satu akibat dari ketidakseimbangan antara work dan life.

Bagi perusahaan, isu ini menjadi penting ketika ketidakseimbangan work dan life menyebabkan turunnya produktivitas dan efisiensi kerja karyawan. Menurut hasil penelitian the American Sociological Review yang dibiayai oleh the National Institutes of Health and the  Centers for Disease Control and Prevention (sumber: Harvard Business Review), konflik antara pekerjaan dan keluarga tidak sepenuhnya merupakan masalah individual namun juga bisa diselesaikan secara sistematis dengan sedikit manajemen kepemimpinan dalam perusahaan. Maka, HR harus mulai memperhatikan isu ini baik untuk diri sendiri maupun untuk perusahaan. Komitmen untuk menyeimbangkan kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi harus dimulai dari dua belah pihak.

 

Apa sih keuntungan work-life balance?

Kalau dari pribadi, dengan adanya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan personal, bisa mendatangkan banyak keuntungan untuk diri sendiri seperti, menurunkan work-life stress yang akan berdampak pada kesehatan fisik  dan mental seperti penurunan tekanan darah tinggi, mendapatkan tidur yang berkualitas, dan menurunnya konsumsi alkohol maupun rokok. Tak hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga bisa berdampak memperbaiki hubungan dengan pasangan dan juga hubungan dengan anak (atau keluarga).

Kalau dari sisi perusahaan, keuntungan yang didapatkan adalah meningkatnya trust atau kepercayaan karyawan pada perusahaan, meningkatnya produktivitas dan efektivitas kerja karyawan, dan meningkatnya loyalitas karyawan pada perusahaan. Dengan adanya work-life balance, kecenderungan karyawan untuk burn-out akan berkurang dan hasilnya, angka turn-over pun menurun. Dengan keuntungan-keuntungan ini, selayaknya isu work-life balance perlu diperhatikan secara khusus oleh HR.

 

Lalu apa peran HR?

HR bisa melakukan langkah untuk mendorong perkembangan budaya yang mengutamakan respect dan trust dalam perusahaan. Menjadi sangat penting bagi perusahaan untuk mengetahui kebutuhan karyawan yang berbeda-beda dan mengadopsi pendekatan-pendekatan HR yang bisa mendorong keberhasilan work-life balance karyawan dalam perusahaan. Anda bisa mencoba menggunakan “employee engagement survey” atau survei simpel untuk menanyakan feedback karyawan. Setelah Anda mengetahui kebutuhan karyawan-karyawan Anda, Anda bisa mulai memetakan kebutuhan mana yang bisa Anda penuhi dan selaras dengan tujuan perusahaan. Inisiatif sederhana seperti adanya ruangan menyusui, jam kerja yang lebih fleksibel bagi para orang tua, tersedianya makan siang dari perusahaan, atau sesederhana pantry untuk karyawan bisa menjadi awalan bagus untuk menunjukkan bahwa perusahaan peduli pada karyawan dan ingin mereka mendapatkan work-life balance.

The ultimate goal is for companies to have a specific work-life balance strategies that work for your company. But don’t feel bad, you can start with a baby step.

Pada akhirnya, yang terpenting adalah perubahan paradigma di jajaran manajemen perusahaan mengenai work-life balance. Isu ini memang relatif baru di Indonesia, namun bukan berarti Anda sebagai HR tidak bisa menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif, baik bagi diri Anda sendiri maupun bagi perusahaan. Karena isu work-life balance bukanlah isu yang dihadapi oleh si karyawan seorang diri namun sudah mulai menjadi tanggung jawab perusahaan juga untuk mencari solusi agar work-life balance bisa terwujud.

Sumber: hrmasia.com, shrm.org, insidehr.com.au, hbc.org, entrepreneur.com

Temukan artikel HR lainnya di majalah triwulan Karir.com: The Good HR #1

1 CommentClose Comments

Leave a Reply

IMG_7088
Booth Emtek Group dalam Karir.com Kickoff dan Expo di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Rabu-Kamis (27-28/5/2015).

SIARAN PERS

Untuk Segera Dipublikasikan

Jakarta, 27 Mei 2015

Karir.com, Portal Karir Pertama Indonesia Ingin Menjadi Aset Bangsa
Menandai Kickoff dengan Identitas Baru

Sejak diakuisisi Emtek Group pada Desember 2014, portal karir pertama di Indonesia, Karir.com, mulai membenahi manajemen dan melakukan sejumlah perubahan secara signifikan. Di bawah komando CEO Dino Martin yang memiliki pengalaman di berbagai industri selama lebih dari 18 tahun di bidang business development, finance, sales & marketing, dan recruitment solution, karir.com akan bertransformasi menjadi portal pilihan terbaik yang mampu menghubungkan talenta dengan opportunity sehingga menjadikan para professional lebih efektif dan sukses dalam berkarir. Dengan menjadi portal pilihan ini, Karir.com akan mampu memberikan solusi total untuk keperluan rekrutmen dan sumber daya manusia bagi perusahaan.

Mimpi Karir.com ternyata lebih tinggi. “Visi kami jauh lebih tinggi. Kami ingin menjadi aset bangsa yang mampu membantu Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia,” jelas Dino Martin, CEO Karir.com. “Pekerjaan rumah bangsa ini dari berbagai studi dan laporan yang ada jelas sekali, yaitu sumber daya manusianya,” tambah Dino lagi. Dengan platform, fitur-fitur, dan database yang terus dikembangkan, ke depannya bukan tidak mungkin karir.com dapat memberikan digital economic mapping bagi Indonesia.

Dalam kesempatan ini, Karir.com juga berbagi hasil survei mereka yang dilakukan selama 5 bulan terakhir. “61% profesional menjadikan internet sebagai sumber utama untuk mendapatkan informasi karir, sementara 29% mendapatkan informasi dari teman, 6% dari info lowongan karir di koran,” tutur Dino.

Hasil temuan Karir.com melalui survei “Potret Perilaku Profesional Berdasarkan Usia dan Level Pekerjaan di Kota-Kota Besar di Indonesia” kepada 6.530 responden inilah yang mendorong Dino ingin mengajak para praktisi dan profesional HR untuk mulai memikirkan upaya-upaya solutif dan kreatif demi mempertahankan kinerja karyawan terbaiknya.

Survei tersebut juga memberikan paparan dan informasi berharga bagi pelaku HR, seperti tingkat kenyamanan bekerja, kepuasan gaji, faktor-faktor yang membuat para profesional terus berkarya di perusahaannya, hingga lama kerja seseorang sebelum akhirnya berpikir untuk berpindah karir.

“Yang menarik, secara umum profesional Indonesia berpikir akan pindah karir setelah 2 tahun ke atas. Namun, jika dianalisa berdasarkan usia, ternyata mereka yang berusia 20 hingga 25 tahun dan di level staf memiliki tingkat persentase untuk pindah dalam jangka waktu 6-12 bulan. Lebih singkat,” jelas Dino lagi, “Ini artinya, perusahaan harus bisa memberikan proper induction, dimana karyawan yang baru bergabung dapat menjadi bagian dari visi besar perusahaan,” papar Dino lagi.

Berdasarkan survei tersebut juga kenyamanan bekerja menjadi faktor dominan bagi para profesional di Indonesia, disusul oleh jenjang karir dan lokasi perusahaan. Namun, ketika dianalisa berdasarkan gender, potret ini berubah. Kaum perempuan lebih mementingkan lokasi perusahaan daripada jenjang karir. Inilah sebagian kecil dari hasil survei Karir.com bagi pelaku HR di Indonesia.

Untuk menjadi portal karir pilihan di Indonesia, kini tampilan situs Karir.com pun dibuat menjadi lebih progresif, modern dan dinamis, dengan fitur-fitur yang memudahkan para pencari karir dan perusahaan. “Dengan situs yang baru, kami ingin mengajak user untuk tidak hanya memikirkan tentang pekerjaannya saat ini namun lebih ke karir mereka,” tutur Rizka Septiadi, Chief Marketing Officer Karir.com. “Ini soal personal branding. Kami ingin mereka mampu menunjukkan potensi dan kualitasnya melalui tampilan baru Karir.com,” tambahnya.

Rizka, atau yang kerap disapa Cika, menambahkan bahwa perusahaan pun kini lebih mudah mencari kandidat yang tepat untuk perusahaannya.

Ratih Pulkeria, Product Manager Karir.com, mengatakan, “Karir.com yang baru akan terus berevolusi untuk memenuhi keinginan pengguna, baik pencari karir maupun perusahaan. Tim engineering kami yang solid dan kuat menciptakan mesin yang mampu merespon cepat dan interface yang lebih interaktif.”

Hingga April 2015, situs Karir.com telah mendapat 2 juta kunjungan per bulan, 1,3 juta qualified resume dan 33.000 perusahaan baik lokal maupun multinasional ada dalam database-nya.

Menandai kickoff desain barunya, di saat bersamaan, Karir.com menyelenggarakan Karir.com Expo 27-28 Mei 2015 di Balai Kartini, dengan lebih dari 1.000 opportunities di 80 perusahaan.

Karir.com merupakan portal asli milik Indonesia dan memiliki visi menjadi aset bangsa. “Karir.com milik Indonesia, dari Indonesia dan bagi Indonesia,” tutup Dino Martin.

***

Tentang Karir.com
Karir.com adalah Portal Karir pertama di Indonesia, berdiri tahun 1999. Sejak Desember 2014 Karir.com menjadi bagian dari Emtek Group, sebuah grup dengan 3 divisi bisnis utama: Media, Telekomunikasi & Solusi IT, dan Konektivitas. Beberapa portofolio Media Online Emtek: Liputan6.com, lakupon.com, vidio.com, dan kini Karir.com – menyediakan layanan bagi perusahaan untuk mendapatkan talenta terbaik melalui media online.

Dino Martin, CEO
Setelah mengambil alih Karir.com pada akhir 2014, Dino merubah perusahaan ini menjadi solusi rekruitmen total untuk pasar Indonesia. Dengan membawa pengalaman yang sudah lebih dari 18 tahun di berbagai industri seperti FMCG, telekomunikasi dan otomotif, dan 5 tahun terakhir di industri perekrutan. Dino memiliki latar belakang yang kuat dalam pengembangan bisnis, keuangan, serta penjualan dan pemasaran. Sebelumnya, Ia pernah menjabat sebagai Vice President, Sales and Marketing BMW, Marketing Manager L’ Oreal serta Brand Manager Ericsson.

 

Keterangan lebih lanjut hubungi:

Rizka Septiadi
Chief Marketing Officer
PT Karir Komunika Pratama
Jl. Bumi No. 10 Kebayoran Baru
Jakarta Selatan 12120
cika@karir.com
0811117627

%d bloggers like this: